Hati.... Melenceng dari tugas utamanya sebagai alat ekskresi, kita lebih sering
memilih untuk menjaga hati supaya hati ga retak kerena kecewa daripada
menjaga keutuhannya supaya ga rusak karena asap rokok...dan entah kenapa hati dijadikan lambang sebagai rumah dari segala jenis perasaan, lengkap dengan sebuah pintu yang seringkali dibiarkan tak terkunci hingga banyak rasa bisa datang dan pergi sesuka sang hati....
Dan G pun masih akan tetap menganggap bahwa hati lah yang bertanggung jawab mewadahi semua perasaan G, since G ga pernah tau bagian tubuh mana yang sebenernya jadi gudang penyimpanan semua rasa itu.
Sepertinya hati selalu jadi kambing hitam saat sesuatu terjadi, sementara logika menolaknya... Seperti saat G jatuh cinta... seandainya saja saat itu logika dan hati sedang bersahabat, mungkin saat ini hati G ga perlu menanggung kesalahan atas kebodohan yang G lakukan.
Tapi katanya cinta adalah masalah hati... sesuatu untuk dirasakan... dan bukan dipikirkan. Well... setidaknya itulah yang dulu pernah dia bilang ke G. Dia membeberkan semua logika hanya untuk bikin G (kembali) merasa dan justru kehilangan logika G.... ironis memang.....
Dan G membangun perasaan G dengan pilar pembenaran yang G samarkan menjadi sebuah logika, pilar demi pilar G susun demi menjaga agar perasaan G tetap utuh.... sampai akhirnya saat runtuh, G harus terperangkap ditengah-tengah puing pembenaran itu sendiri karena ternyata pembenaran-pembenaran itu ga pernah cukup kuat....
Dan G memilih berdiam diri... meratapi puing-puing yang ga mungkin G pugar lagi... dan mengunci pintu hati....
Tapi mungkin yang G lakukan cuma sia-sia karena kunci hati G masih ada ditangannya. Dan dia masih bisa membukanya kapanpun dia mau. Atau mungkin G cuma perlu mengganti gagang pintunya dengan yang baru, membuang smua kuncinya dan membiarkan terus terkunci.... atau terbuka....
Dan biarkan untuk kali ini G memilih untuk menyalahkan logika yang saat itu ga berhasil memberikan alasan yang cukup kuat untuk G tetap ngunci hati G.... dan G menyalahkan logika karena saat itu dengan sengaja meninggalkan begitu saja.... dan G menyalahkan logika karena membiarkan G mengunci hati dengan rasa itu didalamnya....
PS: stelah G pikir-pikir, mungkin mank seharusnya dikadoin 1 set gagang pintu :D
Dan G pun masih akan tetap menganggap bahwa hati lah yang bertanggung jawab mewadahi semua perasaan G, since G ga pernah tau bagian tubuh mana yang sebenernya jadi gudang penyimpanan semua rasa itu.
Sepertinya hati selalu jadi kambing hitam saat sesuatu terjadi, sementara logika menolaknya... Seperti saat G jatuh cinta... seandainya saja saat itu logika dan hati sedang bersahabat, mungkin saat ini hati G ga perlu menanggung kesalahan atas kebodohan yang G lakukan.
Tapi katanya cinta adalah masalah hati... sesuatu untuk dirasakan... dan bukan dipikirkan. Well... setidaknya itulah yang dulu pernah dia bilang ke G. Dia membeberkan semua logika hanya untuk bikin G (kembali) merasa dan justru kehilangan logika G.... ironis memang.....
Dan G membangun perasaan G dengan pilar pembenaran yang G samarkan menjadi sebuah logika, pilar demi pilar G susun demi menjaga agar perasaan G tetap utuh.... sampai akhirnya saat runtuh, G harus terperangkap ditengah-tengah puing pembenaran itu sendiri karena ternyata pembenaran-pembenaran itu ga pernah cukup kuat....
Dan G memilih berdiam diri... meratapi puing-puing yang ga mungkin G pugar lagi... dan mengunci pintu hati....
Tapi mungkin yang G lakukan cuma sia-sia karena kunci hati G masih ada ditangannya. Dan dia masih bisa membukanya kapanpun dia mau. Atau mungkin G cuma perlu mengganti gagang pintunya dengan yang baru, membuang smua kuncinya dan membiarkan terus terkunci.... atau terbuka....
Dan biarkan untuk kali ini G memilih untuk menyalahkan logika yang saat itu ga berhasil memberikan alasan yang cukup kuat untuk G tetap ngunci hati G.... dan G menyalahkan logika karena saat itu dengan sengaja meninggalkan begitu saja.... dan G menyalahkan logika karena membiarkan G mengunci hati dengan rasa itu didalamnya....
PS: stelah G pikir-pikir, mungkin mank seharusnya dikadoin 1 set gagang pintu :D
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.