Cookies consent

Monday, April 21, 2014

I'm an Open Book

“When hatred judges, the verdict is just guilty.” 
- Toba Beta, My Ancestor Was an Ancient Astronaut -


Praduga... seringkali terbentuk hanya kerena sesuatu yang terlihat mata. Seringkali kita terlalu malas untuk mencari alasan yang tersimpan dibalik sebuah perbuatan dan membiarkan pikiran membentuk opini sesuka hati, sesuai dengan yang terlihat dan yang diinginkan.

Tak lagi peduli bilamana kesimpulan yang telah dibuat itu adalah salah dan bahkan mungkin menyakiti mereka yang kebetulan menjadi tertuduh, menghakimi seseorang dengan hal yang negatif seolah sah dan menjadi kepuasan tersendiri.

Indah...

Adalah indah saat kita dianugrahi tahta dalam cinta, saat kita dicintai dengan begitu hebatnya... bukan hanya terasa... tapi juga terlihat dengan jelas. Setiap sentuhan, setiap gerakan dan tatapan mata yang begitu indah menggambarkan cinta.

Wanita mana yang tak akan tersanjung saat setiap kata yang terucap bagai sebuah pelukan hangat yang menenangkan? Aku tersanjung.... bahkan tanpa sempat lagi berpikir bahwa dihatiku masih berdiam cinta yang lain... cinta yang berbunga sejak lama, yang dengan mudahnya terusik dan terusir.

Namun untuk kesekian kalinya... adalah keindahan dari sebuah rasa cinta jika kita masih bisa tersenyum dengan tulus saat pada akhirnya kita harus mengikhlaskan cinta memeluk dia yang terkasih.... untuk berbahagia dengan yang lain. Dan melapangkan seluruh permukaan hati, menanamkan bahagia demi menyaksikan sang kekasih hati meraih kesempurnaan hidupnya, menyusun setiap cerita menjadi sebuah kenangan indah yang tak terbantahkan.

Tuesday, April 15, 2014

Hidup adalah Sebuah Catatan

Jakarta, 2 months before my birthday 01:35

Sekian banyak tahun terlewati, sekian banyak catatan yang tertulis, yang seharusnya menjadi pembelajaran dan bukan hanya sekedar tersimpan menjadi sederetan kenangan. Tapi seringkali kita menjebak diri kita sendiri dalam kesalahan yang sama, perasaan yang sama.... lalu membuai diri dalam kesakitan yang sama. Dan kita membela diri dengan "kita hanya manusia biasa.... bukan dewa...".

Bangkit, berdiri, belajar, berjalan, terjatuh.... untuk kemudian bangkit lagi - dengan satu niat bahwa kita tak lagi ingin terjatuh dilubang yang sama - dan memulai semuanya dari awal lagi. Tapi mungkin kita akan sulit menghapal sesuatu bila tanpa pengulangan.... dan kita mengulang.... lebih keras terjatuh.... dan kita belajar bukan untuk tak terjatuh, tapi untuk menyiapkan alas yang empuk agar saat kita kembali terjatuh, sakit yang terasa tak menjadi terlalu.

Kegagalan seringkali menjadi bayang-bayang yang terlalu gelap, membuat rasa takut untuk kembali melangkah semakin meraja. Dan sempurnalah sang duka... saat diwaktu yang sama, tergores luka yang lain.... Kehilangan.