Cookies consent

Tuesday, April 15, 2014

Hidup adalah Sebuah Catatan

Jakarta, 2 months before my birthday 01:35

Sekian banyak tahun terlewati, sekian banyak catatan yang tertulis, yang seharusnya menjadi pembelajaran dan bukan hanya sekedar tersimpan menjadi sederetan kenangan. Tapi seringkali kita menjebak diri kita sendiri dalam kesalahan yang sama, perasaan yang sama.... lalu membuai diri dalam kesakitan yang sama. Dan kita membela diri dengan "kita hanya manusia biasa.... bukan dewa...".

Bangkit, berdiri, belajar, berjalan, terjatuh.... untuk kemudian bangkit lagi - dengan satu niat bahwa kita tak lagi ingin terjatuh dilubang yang sama - dan memulai semuanya dari awal lagi. Tapi mungkin kita akan sulit menghapal sesuatu bila tanpa pengulangan.... dan kita mengulang.... lebih keras terjatuh.... dan kita belajar bukan untuk tak terjatuh, tapi untuk menyiapkan alas yang empuk agar saat kita kembali terjatuh, sakit yang terasa tak menjadi terlalu.

Kegagalan seringkali menjadi bayang-bayang yang terlalu gelap, membuat rasa takut untuk kembali melangkah semakin meraja. Dan sempurnalah sang duka... saat diwaktu yang sama, tergores luka yang lain.... Kehilangan.

Mengalami moment mendekati kematian ternyata bukanlah pengalaman yang cukup untuk membuat duka jika dibandingkan dengan saat harus kehilangan orang-orang tercinta ketika pada akhirnya Tuhan memutuskan bahwa perjuangan kita didunia ini, harus berakhir.

Terlepas dari apapun penyebabnya.... tak pernah ada seorangpun yang bisa menghindar, jika sang maut mengulurkan tangan, memeluk dan membawa kita pergi - TAKDIR - Kedukaan yang teramat sangat mendalam, seringkali menenggelamkan kita dalam ratapan, seolah merengek mencari penghiburan, semata agar rasa kehilangan itu bisa tersingkir. Lalu mencari kambing hitam dan menyesali diri adalah langkah berikutnya, saat kita tak mampu mengusir rasa kehilangan yang semakin menjadi.

Mamaku pernah bilang, rasanya akan lebih baik kehilangan seseorang karena kematian daripada jika harus kehilangan karena sang terkasih berkhianat. Setidaknya saat kematian memisahkan, akan tersimpan kenangan manis bahwa cinta itu tak pernah pergi, cinta itu tersimpan dalam hati. Is that so? Katakan bila aku mungkin terlalu naif, tapi aku memilih menyimpan rasa sakit demi melihat dia yang tercinta bisa tersenyum bahagia, sehat walafiat dan berkecukupan.

Yang dari tahun ke tahun menjadi catatan terindahku, adalah bahwa aku tak pernah kekurangan cinta, meskipun bagi sebagian besar orang, hidupku terlihat timpang tanpa keberadaan seorang pasangan hidup. Bagiku... hidupku terasa timpang karena rasa takut kehilangan cinta dari dia yang tercinta, jauh lebih meraja daripada kebutuhan untuk memiliki seorang pendamping.

Ya... aku hanya takut kembali terjatuh kedalam lubang terdalam saat harus kembali mencatatkan pengharapan tertinggi pada seorang lelaki, yang dikemudian hari akan pergi....

Dan hari ini aku meneteskan air mata duka yang teramat sangat.... saat salah seorang sahabat terbaikku harus mengikhlaskan perempuan terindah yang baru saja 4 tahun menyempurnakan catatan hidupnya, pergi untuk selamanya. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa firasat.... dan aku menangis... untuk rasa kehilangan dan rindu yang dirasakan oleh sahabatku, untuk setiap kata "mama" yang terlontar dari mulut sang anak, untuk sebuah pertanyaan: MENGAPA BUKAN AKU?

Tapi pantaskah aku mempertanyakan mengapa maut tega memisahkan hati-hati yang saling mencinta? Mengapa maut tak lantas memilih untuk merengut mereka yang sendiri.... aku?

Mungkin tak pantas aku bertanya... mungkin yang selayaknya aku lakukan adalah kembali menata hidupku, bahwa makna sesungguhnya dari sebuah kehidupan adalah apa yang tercatat diantara masa setelah kelahiran dan sebelum kematian menutup seluruh cerita.

PS: slamat jalan... hanya bisa memberikan penghormatan terakhir melalui doa. Terima kasih karena telah memberikan yang terindah untuk sahabatku tersayang. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik disisi-Nya. Amin




No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.