“When hatred judges, the verdict is just guilty.”
- Toba Beta, My Ancestor Was an Ancient Astronaut -
Praduga... seringkali terbentuk hanya kerena sesuatu yang terlihat mata. Seringkali kita terlalu malas untuk mencari alasan yang tersimpan dibalik sebuah perbuatan dan membiarkan pikiran membentuk opini sesuka hati, sesuai dengan yang terlihat dan yang diinginkan.
Tak lagi peduli bilamana kesimpulan yang telah dibuat itu adalah salah dan bahkan mungkin menyakiti mereka yang kebetulan menjadi tertuduh, menghakimi seseorang dengan hal yang negatif seolah sah dan menjadi kepuasan tersendiri.
Semua orang punya masa lalu... mungkin tak semuanya gelap... atau mungkin gelap tidaknya masa lalu seseorang akan tergantung dari sudut mana kita memandang, tapi apakah bijaksana jika penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan apa yang pernah dilakukan oleh seseorang? Atau yang KATANYA pernah dilakukan oleh seseorang? Tak bisakah seseorang itu memperoleh kesempatan kedua... ketiga... tak bolehkah seseorang berusaha untuk berubah?
Just like me... memilih untuk menceritakan hampir segala sesuatunya tentang diriku... tentang masa yang pernah aku lalui, tentang apa yang pernah terjadi... bukan untuk menarik simpati tapi semata hanya mencoba untuk memperkenalkan diriku dari sisi yang terburuk... Juga bukan sebuah kebanggan jika aku menceritakan sisi terkelam yang pernah kutangisi, aku hanya ingin mereka yang mendengar dapat menilai segala sesuatunya dari sudut aku memandang... bukan untuk menyamakan visi, tapi setidaknya mencoba mengerti.
Bagaimanapun, adalah diluar kuasa kita jika yang terjadi adalah kebalikkan dari yang kita harapkan. Kita tak pernah punya kemampuan yang cukup untuk mengatur apa yang ingin orang lain pikirkan. Tak peduli segamblang apa kita memaparkan segala sesuatunya, kita tak akan mampu membatasi asumsi yang akan terbentuk kemudian dipikiran orang-orang.
Dan disaat itu terjadi, aku hanya bisa diam... aku tak punya kemampuan untuk menghapus apa yang telah tertulis dan akupun tak memiliki kekuatan untuk memperbaiki setiap kerusakan yang terjadi atas apa yang telah terlanjur tertulis dalam hidupku, tak bisa juga kupaksakan orang-orang lain untuk mengerti....
Lalu aku hanya bisa pasrah dan membiarkan seluruh telunjuk mengarah padaku, demi rasa yang hanya aku yang tahu, demi kebahagiaan dia yang tercinta - Dan aku terima semua penghakiman sebagai konsekuensi dari apa yang terlanjur aku lakukan.
"When you loved the one who was killing you, it left you no options. How could you run, how could you fight, when doing so would hurt that beloved one? If your life was all you had to give your beloved, how could you not give it? If it someone you truly loved?"
- Stephenie Meyer, Breaking Dawn -
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.