Cookies consent

Friday, July 26, 2013

Spider on my arm

Jakarta dengan segala gegap gempitanya, bahkan saat jam dipergelangan tanganku sudah menunjukkan saat yang tepat bagi para penjaja cinta disepanjang jalan Hayam Wuruk, untuk mulai beranjak pulang. Kota ini seolah tak pernah punya niat untuk sejenak beristirahat dari segala macam konflik, transaksi dan affairs yang seringkali membumbui banyak pertemanan dan menggoyahkan persahabatan.

Tapi di kota ini juga, jutaan cinta tumbuh berkembang bak bunga-bunga liar yang bermekaran diantara padang ilalang. Ada yang kemudian menemukan cinta sejati, ada juga yang jatuh bangun mencari cintanya yang tak kunjung datang dan ada yang memilih untuk menutup catatan hidupnya hanya karena sang cinta tak pernah berniat menghampirinya. Dan aku? Aku memilih diam... Bukan lelah, hanya tak ingin menghabiskan energi untuk sesuatu yang.... absurd? Hmmmm... mungkin absurd bukanlah kata yang tepat. Mungkin aku adalah pejuang pasif, aku tidak akan berjuang untuk memiliki tapi apa yang sudah aku miliki pasti akan aku perjuangkan.

Dan inilah aku... perempuan dengan berderet kegiatan yang seolah tak henti menuntut perhatian, berteman dengan SEKIAN banyak jenis manusia yang beramai-ramai memadati buku teleponku, yang katanya punya penampilan yang cukup untuk membuat lelaki melirik dan yang katanya lagi mempunyai banyak kelebihan yang mungkin tak dimiliki oleh perempuan lain. Bangga? 

Sampai bagian itu, YA aku bangga akan diriku sendiri tapi lalu kebanggaan itu tak berarti apa-apa saat aku harus mengakui kenyataan bila aku tak bertambah muda (oh... yes...i'm getting old, ladies and gents...), masih banyak mimpiku yang belum terwujud dan i'm still alone. Bangga? TIDAK!!!

Hal yang terakhir itu telah dengan sangat berhasil membuatku seolah masuk dalam keluarga amfibi, dalam hal ini, kasusku adalah amfibi yang terbuang (maaf, ini bukan judul sinetron lho...). Untuk bergaul dengan sesama aloner yang notabene masih seusia girlband korea, jelas aku sudah tidak mendapatkan tempat. Dan untuk bergaul umat seusia, akupun jengah dengan segala macam pertanyaan tentang kapan menikah atau berakhir dengan kebosanan tingkat kejuaraan dunia karena hanya bisa diam saat mereka sibuk membicarakan anak atau suaminya.

Sementara perempuan lain sudah sibuk memikirkan biaya sekolah anak-anak mereka, aku masih saja terpuruk dalam cinta yang salah.... uhmmmm... lelaki yang salah tepatnya. Dan akhirnya... jadilah aku yang sekarang, SANG PEJUANG... PASIF.

Dan lalu.... ahhh... wait - prolog tentang diriku harus berhenti, demi sebuah nama yang jauh dari harapanku, terpampang jelas dilayar ponselku.

"Cuuyyyy... masih bangun kan lo?"

"Yaelahhh... klo tidur mana gue angkat telepon sih?"

"Sudah gue duga... Bantuin gue dong, gue butuh file-file gambar kemarin, mau gue kirim ke Malaysia. Yaaaa...syukur-syukur lo mau kirim sendiri."

"Hahhh... idup g indah banget. Sekalinya ada lelaki yang telepon gue, cuma buat urusan kerjaan. Kali-kali keq telepon gue ngajak kencan..."

"Ya nasib lo, nak. Terima aja napah...." 

Ali, 1 dari sekian banyak sahabatku dan 1 dari segelintir orang yang benar-benar mengerti aku bahkan disaat aku sendiripun merasa tak mengenali diriku lagi. Tak pernah ada waktu yang bisa membatasinya untuk menghubungiku, karena ak, SANG WANITA MALAM, lebih banyak membelalakan mata saat matahari mulai tertidur. Yang menjadi tanda aku tertidur adalah saat telepon berdering 4 kali tanpa jawaban... thats all...

"Ya uda, gue aja yang kirim. Sms gue lah emailnya. Mumpung gue masih online."

"Gue selalu tau kalo lo baik hati, cuy..." tersirat nada menggoda dalam tawanya.

"Ya ya ya ya... tapi kenapa gue ga laku? Okey... ga usah lo jawab!"

"Hahahahahah... kenapa lo? Kena sindrom jomblo lo? Subuh-subuh mikir gituan..."

"Blaaahhh...ga usah ngomong deh lo!"

"Ya...ngomong-ngomong soal cowok... Gue rasa si Sam cocok buat lo, cuy."

BLAAAARRRR.... kenapa nama itu muncul? Atas dasar apa? Sementara selama ini tak ada 1 pun lelaki yang menurut Ali cukup pantas untuk jadi kekasihku. Sementara ini? Apa-apan ini?

"Hah... kesurupan lo? Kenapa tetiba jadi ngomongin dia? Dan kenapa dia?"

"Ga tau juga. Gue cuma ngerasa klo dia bisa ngimbangin lo aja. Ada sesuatu didirinya dia. Mungkin dia sejenis vampir gituh."

VAMPIR!!! Of course... Dibalik gaya (sok) gagahku, masih saja aku dibuat terlena oleh film Twilight Saga, yang meskipun baik dari sisi alur cerita ataupun efek filmnya bisa dibilang dibawah standar, tapi bisa dengan sangat berhasil membangun banyak khayalan dikepala para perempuan diseluruh dunia. Termasuk dikepalaku. Dan sosok Edward Cullen dengan semua kesempurnaannya, sungguh-sungguh mampu membuatku melewati jam tidurku, bermimpi tentangnya.

"Ga lah... Bukan tipe gue banget. Gue perlu seseorang yang bikin gue jadi perempuan. And gue rasa dia pun ga suka gue... ahahahah..."

Miris memang... but i think that's the truth. sampai detik Ali menyebut namanya, tak sekalipun aku memikirkan dia lebih dari seharusnya. Dan sekarang... things suddenly change!!! Sosok Sam berkelebat. Sesaat saja, tapi cukup lama hingga mampu membuat bulu kudukku berdiri. Noooo... bukan karena Sam termasuk kedalam kalangan dedemit, tapi tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyelinap kedalam hatiku.

"Ya sudahlah... kirim email sanahhhh... Gue mau tidur dulu. Besok lo ngantor kan? See you, then..."

"Banciiii... lo suruh gue kerja tapi lo sendiri mo tidur? Blaaaahhh.... temen macem apa lo?"

Ali hanya tertawa terbahak-bahak dan tak lama kemudian tak ada lagi suara yang kudengar dari ujung sana. Kuletakkan ponselku, kembali berhadapan dengan laptop kesayanganku dan mulai mengirimkan gambar-gambar yang Ali maksud setelah alamat email tujuan kuterima melalui sms. Pagi itu, aku tertidur tanpa bermimpi. Dan perasaan aneh yang tadi kurasakan kini hilang tanpa jejak.

--------

Tanpa direncanakan, 3 hari setelah pembicaraan terakhirku ditelepon dengan Ali, aku bertemu Sam. Hanya saling bertukar senyum - tak lebih - tak juga ada rasa yang lebih. Dalam hati aku tersenyum, demi mengingat kata-kata Ali pagi itu.

"Blaaahhh... emang Sam kenapa? Apa yang istimewa?"

Tanpa kusadari, mataku terpaku menatap lelaki itu. Dan harus merasa malu saat lelaki itu tiba-tiba balik memandangku. DAMN.... perasaan aneh itu datang lagi, sekarang lebih liar. Apa ini? Rasanya seperti sesuatu sedang merayap ditanganku... ya... seperti ada laba-laba yang sedang berjalan ditanganku. Rasa menggelitik yang membuat geli tapi juga menumbuhkan rasa ketakutan.

Oh...no... Dear God, please don't let me fall... satu doa yang saat itu kuucapkan dengan keseriusan dan niat yang luar biasa. Aku tak mengenalnya dan begitu juga sebaliknya. I mean, kita berdua hanya sebatas kenal. Tak pernah ada pembicaraan lebih dari 2 alinea yang kita lakukan. No... please...

Dan sore itu menjadi sore yang penuh gundah gulana untukku. Maaf, bukan galau lho ya!!!

Malam itu aku bertekad untuk membunuh rasa itu sebelum sempat bernyawa, lalu tidur dengan membawa harapan bila esok pagi rasa itu sudah hilang. 

Esoknya, aku terbangun dengan perasaan.... KANGEN? WTF!!! Begitu juga hari berikutnya... lalu berikutnya... lalu beikutnya... sampai hari ini... Bahkan riuh rendah keceriaan Jakarta tak mampu membuatku mennghentikan rasa ini. Lalu aku terdiam... karena memang aku harus diam - tak ada yang bisa aku perjuangkan. Walau rasa ini bertambah kuat, aku tak ingin turun ke medan perang. Biarlah rasa ini tetap merayapiku, tho ketakutan itu pun tetap ada. Kali ini aku tetap pejuang.... VETERAN.


Thanx to all the spider in the world and the spider that have fun on my arm yesterday morning 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.