Cookies consent

Monday, July 29, 2013

Lelaki dalam kotak Kaca

Weekend...
Satu kata sederhana yang tercantum dikepala banyak orang sebagai satu kata yang menyenangkan. Satu kata yang menggambarkan 2 hari dipenghujung minggu, dimana kaum pekerja bisa sejenak melupakan pekerjaannya untuk bercengkrama bersama keluarga tercinta, dimana para pelajar bisa sekejap bersantai dan memenuhi mal-mal dengan gelak tawa mereka, dimana para kekasih bisa membuat janji untuk bercinta.

Dan weekend... saat dimana aku hampir selalu terjebak didalam taksi, ditengah-tengah kemacetan dan berkutat dengan sejuta andai dikepalaku. Sama seperti minggu yang lalu.... minggu sebelumnya.... atau 3 tahun yang lalu... tak pernah ada rencana yang kutuliskan dalam agendaku. Awalnya aku masih berusaha keras untuk menyibukkan diri di akhir minggu (ya setidaknya status yang kutulis dijejaring sosial akan terlihat "sibuk" dan menyenangkan) tapi setelah 52 minggu berselang, aku memutuskan untuk berhenti mencoba. Apapun yang terjadi diakhir minggu, itulah yang akan aku nikmati.
Pemandangan yang terlihat dibalik jendela taksi pun hanya menambah rasa sebal yang entah kenapa semakin memuncak. Para pengendara yang terlihat lelah dan mulai tak sabaran berusaha untuk saling berebut jalanan. Ocehan dan makian jadi hal yang lumrah dijalanan Jakarta yang semakin hari semakin hiruk pikuk ini.

Ponsel yang tak pernah terlepas dari genggamanku pun kali ini diam seribu bunyi. Kualihkan pandanganku, menatap layar mini sebuah tv yang memang sengaja disediakan oleh sang penyedia jasa demi untuk memanjakan para penumpangnya. Seketika, darahku berdesir kencang....

Mataku mencoba bekerjasama dengan otakku, berusaha mendapat kata sepakat bahwa lelaki yang kini sedang kupandangi dilayar kaca adalah lelaki yang 3 tahun lalu pernah memiliki hatiku. Dia... sekarang adalah seorang publik figur - selebriti - yang dipandang layak untuk diberitakan melalui sebuah tayangan gosip.

"Mbak, ini kita masih lurus terus?"

Sedikit tergagap, kucoba mengumpulkan kembali kesadaranku yang sempat berhamburan.

"Oh... maaf saya ngelamun pak. Nanti didepan, setelah lewat jajaran ATM itu, kita belok kiri ya pak."

"Baik, mbak"

"Nanti setelah belok, langsung ambil kanan aja pak. Kita belok kanan dibelokan pertama"

"Iya, mbak."

Beruntung kali ini aku mendapat taksi dengan supir yang tidak banyak bicara. Meskipun beberapa kali kudapati matanya mencuri pandang kearahku melalui kaca spion. Mungkinkah resah yang kurasakan tergambar jelas diwajahku?

"Kita lurus aja ya pak. Nanti tempatnya ada disebelah kanan jalan, pas diseberang sekolahan."

Pak supir tak menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya. Mungkin diapun lelah, 1/2 dari harinya harus dia habiskan ditengah-tengah kemacetan dan harus berhadapan dengan berbagai karakter penumpang yang berbeda.
Pikiranku kembali melayang pada lelaki dilayar kaca tadi. Tanpa mampu kutahan, setitik air mata mulai menggenang disudut mataku.

"Disini mbak?"

Supir separuh baya itu membalikkan tubuhnya kearahku. Tersirat kekhawatiran diwajah lelahnya yang meskipun tampak hitam tapi bersih, ada kebijaksanaan yang tergambar disana.

"Sudah sampai ya?"

Kucoba untuk tersenyum. Lalu kuserahkan 3 lembar uang pecahan 20.000 kepadanya dan bergegas membuka pintu.

"Kembaliannya, mbak?"

"Ga usah, pak. Makasih ya..."

"Terima kasih, mbak. Hati-hati ada yang ketinggalan ya mbak."

Kuanggukan kepalaku seraya menutup pintu.

-------------

Kuhirup wangi sabun kesayanganku dalam-dalam. Kupenuhi seluruh permukaan kulitku dengan busa putih yang keharumannya begitu lembut dan menenangkan. Lalu kubiarkan air hangat menyirami seluruh tubuhku. Rasa penat yang kurasakan setelah seharian bergelut dengan hiruk pikuk Jakarta, sedikit terangkat. 3 menit kemudian, aku mendapati diriku meringkuk terduduk dibawah siraman air hangat, menangis sesenggukan....

Apa yang sebenarnya aku tangisi? Untuk apa? Dan mengapa tangis ini justru datang hari ini?

Kubungkus tubuhku dengan handuk, kamar yang kubiarkan gelap, terasa dingin, hanya ada cahaya yang berasal dari televisi dan kamar mandi yang pintunya kubiarkan terbuka. Kurebahkan tubuh telanjangku diatas tempat tidur, menggeliat masuk kedalam selimut, lalu kupejamkan mataku.

"Sayang, aku ga tau apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara kita. Tapi mungkin apa yang kamu pikirkan sekarang, sama dengan apa yang sedang aku pikirkan..."

Raka membelai rambutku, masih dengan kasih sayang yang teramat sangat. Kulipat tubuhku, menyusup kedalam pelukkannya. Bersamanya adalah kedamaian, bersamanya adalah saat-saat dimana aku adalah aku, tak ada kepura-puraan dan topeng.

"Mungkin... tapi apa kamu yakin? Akankah ini jalan yang terbaik untuk kita?"

"Ra.... Aku sadar sepenuh hatiku, kita saling menyayangi. Kita saling mengenal, bahkan mungkin lebih dari kita mengenali diri kita sendiri... Tapi kita juga harus sadar, Ra.... bukan aku yang bikin kamu bahagia. Dan bukan kamu yang bikin aku jatuh cinta."

Raka terdiam tanpa ekspresi, matanya terpejam, disandarkannya kepalanya diatas kepalaku. Ada perih yang menyelinap kedalam kisi-kisi hatiku, yang membuat seluruh persendian tubuhku terasa ngilu. Ya, kami saling sayang, kami saling mengerti dan menerima, tapi kami bukan cinta... Hubungan kami yang sudah berjalan hampir 2 tahun terasa hambar, nyaris tanpa konflik, tak ada cemburu, bahkan minus rasa rindu. Semuanya seolah berjalan dengan sendirinya, tak pernah ada saling menuntut dan tak pernah merasa menunggu.


"Okay, jadi ini adalah keputusan kita berdua... Kita akan tetap bersahabat kan? Kamu akan selalu jadi belahan jiwaku, La. Selalu...."

"Ya... maafin aku, Ra. Aku ga pernah bisa jadi bahagiamu..."

"Sola..."


Mataku nanar menatap dinding hijau kamarku. Mimpi itu datang lagi... setelah sekian lama - setelah berhasil kuusir bertahun-tahun yang lalu - kini kembali mengunjungi tidurku hanya karena beberapa menit saja memandangi sosok lelaki yang pernah jadi bagian dari hidupku itu dilayar kaca.

Rama kini adalah sosok yang menjadi panutan, idola banyak orang, seorang musisi dengan segudang prestasi. Lelaki yang dulu memelukku dengan segala kehangatannya dan selalu mendamaikan hatiku dengan segala perlindungannya, kini hanya bisa kulihat dan tak bisa kusentuh.

Sekian tahun berlalu, tak pernah ada pengganti Rama. Walaupun aku yakin bila yang pernah terjadi diantara kita bukanlah cinta, tapi aku tak pernah mampu untuk menentukan cinta yang baru, tak pernah punya keyakinan yang cukup bahwa yang ditawarkan oleh lelaki-lekaki yang datang kemudian, adalah cinta yang sesungguhnya. Ya... karena yang menjadi nilai pembanding untuk para lelaki itu adalah Rama...

Kulirik ponselku yang tergeletak tak bergairah sesamping bantal. Jam 2 pagi. Kupaksa tubuhku untuk bangun, kuambil sehelai kimono dari dalam lemari pakaianku dan nyaris saja aku terlonjak saat tiba-tiba kudengar ponselku - akhinya - berbunyi.

"Ay, belum tidur kan?"

Kuhela napas panjang sebelum akhirnya aku menjawab.

"Tadi sempat ketiduran. Ini baru aja kebangun. Ada apa subuh-subuh gini, Roy?"
"Mudah-mudahan kamu kebangun bukan karena telepon aku. Buka pintu dong, aku didepan rumah kamu nih."

Bimbang sempat merambat, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk membukakan pintu. Roy adalah lelaki yang akhir-akhir ini tengah sangat dekat denganku. Belum ada ikatan pasti. Tapi apa yang kucari, bisa aku temukan dimatanya.

"Hai... tumben kamu jam segini kesini. Ada masalah kah?"

"Ga ada...." Keraguan berbayang rasa takut tergambar diwajahnya.

"Kenapa? Kamu sakit?"

"Uhmmmm.... bukan... bukan itu... "

"Terus?"

Kusisihkan tubuhku dari depan pintu, agar Roy bisa masuk kedalam. Lalu kututup kembali pintu dengan perlahan, ada rasa takut yang juga tiba-tiba tumbuh dihatiku. Aku takut dengan apapun kemungkinan yang akan terjadi nanti.

"Aku ga bisa lagi lebih lama menyimpan ini untuk diriku sendiri. Aku takut bila aku biarkan lebih lama, aku akan terlalu terlambat."

"Kamu ngomongin apa sih?" Ketakutan semakin merajai hatiku.

"Aku..." Roy seperti berusaha keras untuk menegakkan kepalanya. "Aku mencintai kamu, La...."

"Apa yang aku rasakan saat aku bersama kamu dan apa yang kurasakan saat kamu harus jauh dari sisiku, sudah ga bisa aku pungkiri lagi, La... Aku ingin kamu jadi milikki..."

Aku merasa kehilangan seluruh tulang belulangku. Aku jatuh terduduk diatas sofa dibelakangku dan dengan tatap mata yang penuh rasa khawatir, dalam sekejap Roy sudah ada tepat dihadapanku, berlutut sambil memegang kedua tanganku.

"Maafin aku, La. Kamu ga suka ya? Kamu marah?"

BUKAN.... bukan marah yang kurasakan. Aku sendiripun tak mengerti apa yang aku rasakan. Ada rasa yang perlahan memudar dari setiap aliran darahku dan berganti dengan rasa yang baru - sama sekali baru - yang sebelumnya aku pikir itu tak mungkin terjadi.

"Kamu yakin? Kamu sungguh-sungguh?"

"100%. Kamu mau kan jadi milikku? Kamu bersedia.... jadi istriku?"

Rama... Rama... apakah aku bersalah padamu bila saat ini aku merasa sangat bahagia? Apakah salah jika saat ini aku menyadari bahwa aku.... mencinta?

"Aku mungkin bikin kamu kaget sepagi ini ya.... maafin aku... tapi tolong katakan sesuatu, La... Jangan biarkan aku tersiksa menunggu jawaban kamu."

Kuanggukan kepalaku perlahan tapi penuh rasa yakin. Aku yakin bila Roy adalah lelaki yang tepat, karena dia mampu membuatku merasakan cinta. Mampu menyadarkanku bahwa keputusan yang dulu kubuat bersama Rama adalah keputusan yang tepat - setelah penantian sekian lama...

"Makasih, La.... Makasih..."

Tanpa kuduga, Roy memelukku, mencium keningku dan kemudian memandang wajahku seraya tersenyum. Ada raut wajah bahagia tergurat jelas diwajahnya dan matanya yang berbinar seolah ikut tersenyum.

Ditariknya tubuhku kedalam pelukkannya lagi, kali ini bukan hanya dengan rasa bahagia. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang juga kini kurasakan. Dan aku tak ingin menolak, tubuhku pun tak ingin menepis, kubiarkan saat bibirnya menyentuh leherku dan tangannya bergerak membuka simpul kimono yang kupakai. Kali ini aku yakin.... biarlah Rama kini menjadi bagian dari kenanganku... biarkan Rama mencari dan mendapat kebahagiaannya sendiri dan biarlah Rama menjadi sosok yang hanya bisa kunikmati lewat layar kaca.

Kali ini, kubiarkan diriku menikmati apa yang sedang terjadi....

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.