Note: posting G x ini sama skali ga bermaksut buat mendiskriminasikan kaum lelaki, mendiskreditkan mereka ato menjadikan diri G ndiri sbage seorang feminis.
Sejatinya, seorang lelaki seharusnya menjadi pelindung, pengayom dan pembimbing wanita. Baik dalam lingkungan keluarganya maupun lingkungan sosialnya. Tapi apa yang banyak terjadi skarang ini *tepatnya, yang banyak terjadi dalam kehidupan G..* *curcol? WHATEVER...* para lelaki itu spertinya agak kesulitan untuk memenuhi kodratnya.
Ntah karena dipersandingkan dengan satu mimpi bertajuk "emansipasi wanita" *yang kayaknya skarang mulai jadi bumerang* ato mank karena nilai2 kelelakian itu da jauh menurun, sangat sulit skali buat G *yang baik menurut KTP, penampakan fisik maupun pengakuan ortu G adalah seorang perempuan* ktemu momen dimana G bisa telentang manis manja diharibaan seorang lelaki yang layak buat G panggil LELAKI.
Coba bayangin...*disini drama dimulai*
Gimana bisa momen2 syahdu merayu itu tercipta, klo G n mungkin 70% perempuan yang lain juga mesti melindungi, mengayomi n membimbing diri ndiri? Saat kebutuhan *ato keinginan yang menjadi keharusan?* menjadi alasan untuk lebih mengkaryakan diri diluar rumah.
Lalu hiperaktifnya kaum perempuan dalam menghasilkan rupiah, yang seringkali muncul dengan angka yang aw aw aw aw..., memunculkan lelaki-lelaki yang tetiba bermental kaum perempuan dijaman sbelon kelahiran ibu kita Kartini. Lelaki-lelaki yang *hanya* diam dirumah dan menikmati sgala fasilitas yang dihasilkan kaum perempuan tanpa ada usaha untuk berbuat lebih, tapi anehnya mental wanitaisme ini ga menghilangkan ego kelelakian mereka, bahwa mereka adalah kepala rumah tangga yang harus dihormati.
Bahkan lelaki yang bergelimang kesuksesanpun blon tentu bisa menjalankan kodratnya sebagai lelaki seutuhnya, saat menjadi lelaki baginya adalah hanya sbage penyedia kebutuhan rumah tangga dan menjadi pejantan yang baik. Sepertinya "emansipasi wanita" telah mengaburkan sisi2 keindahan yang selayaknya tercipta antara lelaki dan perempuan. Para lelaki menjadi lupa, sengaja melupakan ato mungkin skedar ga tau diri, bahwa dibalik keperkasaan setiap perempuan terselip kebutuhan untuk dilindungi, diayomi, dibimbing dan DICINTAI.
Lalu berpasangan pun menjadi sebuah kata yang ambigu. Pernikahan bukan hanya terjadi atas dasar cinta, tetapi seringkali dilandasi faktor kepentingan bahkan disisipi faktor politik. Dimana masing2 pihak hanya fokus pada kepentingannya masing2 tanpa mempedulikan faktor perasaan.
Kemesraan yang ditampilkan didepan umum, lantas hanya menjadi sebuah formalitas yang menyebalkan dan penuh rasa canggung. Para wanita tidak lagi menampilkan dirinya sbage perhiasan pasangannya, tapi mulai unjuk kekuatan.
Lalu para lelaki ini hanya diam, pasrah, menikmati dan bahkan bangga saat para perempuan berlomba2 saling bersaing menunjukan kehebatannya. Dan semuanya tertipu ato menipu diri, saat perempuan2 ini tetap berjalan anggun diatas sepasang high heels mahalnya, menebarkan sejuta pesona atas senyumnya, bahkan saat segenap jiwa raganya hancur luluh lantak karena cinta ga lagi jadi penghuni hatinya.
Dedicated to a lady "be strong, Mrs..." and my self...
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.